Saleum

Herman, Unimal dan Revolusi 4.0

HERMAN Fithra akhirnya dipilih menjadi Rektor Universitas Malikussaleh. Dia memperoleh suara mayoritas dari senat universitas dalam rapat senat tertutup yang dilaksanakan di Aula Meurah Silue, Kampus Pascasarjana Unimal, di Lhokseumawe. Dengan demikian, dia akan menjadi nakhoda Unima hingga 2022 nanti.

Pria jangkung ini akan menghadapi banyak tantangan dalam menjalankan tugasnya. Namun yang terpenting dari semua itu adalah meningkatkan mutu pendidikan di universitas itu. Terutama di tengah-tengah revolusi industri generasi keempat yang dikenal dengan Revolusi 4.0.

Revolusi ini ditandai dengan kemunculan teknologi yang dulu hanya bisa dinikmati di film-film fiksi besutan Hollywood. Robot menyerupai manusia, kendaraan tanpa pengemudi, susun ulang genetik, dan komputer yang berpikir seperti manusia. Perubahan ini mendorong perkembangan teknologi lebih cepat dan peran manusia semakin terpinggirkan.

Lihat saja bagaimana mudahnya “anak” Revolusi 4.0, seperti Go-Jek dan Traveloka, menyingkirkan peran para pemain transportasi dan travel yang dulu sangat berkuasa. Tak ada lagi loket atau kantor yang melayani pembelian tiket. Tak ada petugas pemesanan tiket atau agen-agen perjalanan. Semua kini digantikan oleh aplikasi yang menyediakan banyak pilihan lengkap dengan harga. Tak banyak interaksi. Peran manusia yang dulu dominan kini digantikan dengan sebuah aplikasi.

Perusahaan-perusahaan dipaksa menjadi lebih ramping dan lincah untuk bisa bersaing dan bertahan. Mereka harus mengadopsi teknologi baru, bukan sekadar menyajikan produk. Alhasil, kebutuhan terhadap tenaga kerja semakin berkurang. Termasuk juga nanti di dunia pendidikan. Bahkan saat ini, Usee TV, produk milik PT Telkom, memiliki saluran edukasi yang dirancang untuk dapat langsung “dimainkan” di hadapan para guru dan murid.

Keberadaan Unimal jelas tak bisa dipandang sebelah mata. Meski kalah populer dari Universitas Syiah Kuala atau universitas lain di negeri ini, Unimal memiliki peran penting dalam dunia pendidikan dan industri Aceh di masa depan. Apalagi letaknya secara geografis sangat berdekatan dengan lumbung industri Aceh: Kawasan Ekonomi Khusus Arun-Lhokseumawe.

Herman harus pandai-pandai membawa lembaganya agar mampu menghasilkan tamatan-tamatan yang berkualitas. Untuk sampai ke sana, Herman harus mampu mendorong riset dan pemanfaatan hasilnya secara maksimal. Hal ini bisa dilakukan dengan mendorong agar Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi mengalokasikan dana riset lebih besar dan Pemerintah Aceh menggunakan hasilnya secara optimal.

Herman dan jajarannya harus berani keluar dari zona nyaman perguruan tinggi. Perguruan tinggi bukan tempat eksklusif yang mengasingkan orang-orang pintar dengan dunia nyata. Para akademisi harus berani bersuara lantang dan mengkritik pemerintah sembari memberikan solusi berdasarkan keilmuan yang mereka miliki. Perguruan tinggi harus bertransformasi dan menemukan keseimbangan baru. Peran inilah dirindukan publik dari kawah candradimuka orang-orang pintar di negeri ini.

Selaku rektor, Herman harus mampu menggerakkan Unimal menjadi universitas yang modern. Dia harus mampu mendongkrak kualitas. Herman telah membuktikan keberanian untuk meninggalkan zona nyaman. Dan kini, keberanian itu harus ditulis ulang. Selamat bertugas. |AJNN.net

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close