Kolom

Menjaga Pertahanan Semesta

DOSEN

Oleh Masriadi

Seperti daerah-daerah lain, Aceh memiliki syair lokal. “… Alahai do, do da idang, layang-layang putus tali, cepat besar putraku, bantu berperang bela negara. Wahai anak jangan duduk lagi, bangun segera bela bangsa. Jangan takut darah mengalir, walau mati, ibunda rela.” Makna syair ini mengingatkan agar generasi penerus mencintai negeri. Dulu, syair ini dinyanyikan kaum ibu untuk menidurkan anak.

Tak heran, sejarah mencatat, Kerajaan Aceh Darussalam menjadi cukup kuat sehingga sulit ditaklukkan. Snouck Hurgronje, ahli strategi propaganda dan perang Belanda, menyatakan Aceh sulit ditaklukkan. Namun kini, syair tersebut mulai sirna dilindas sikap individualistik generasi milenial. Kaum ibu muda, umumnya tak lagi mendidik anak dengan syair tadi.

Sikap individualistis serta minus warisan budaya membuat generasi milenial enggan bicara sejarah dan budaya. Mereka cenderung lebih menyukai kajian ekonomi atau politik. Padahal esensi kemajuan suatu bangsa berawal dari pengokohan kebudayaan. Hal itu lalu bermuara pada kuatnya ketahanan bangsa dalam wujud persatuan dan keinginan rakyat membela negara.

Bangsa ini menghadapi masalah serius, di masa depan bisa kehilangan generasi yang mau belajar dari masa lalu. Wajar, bila sikap pesimisme akan kemajuan bangsa muncul di mana-mana. Selain itu, sikap patriotik mulai pupus dan menguatnya antipemerintah lewat hoax (berita bohong) yang menjadi sampah informasi digital dewasa ini.

Ditambah ujaran kebencian antarsesama, antarpendukung partai politik, dan antarkelompok. Ini seakan membuktikan bahwa bangsa berada pada titik nadir krisis jati diri. Jika kondisi ini dibiarkan, konsep pertahanan semesta yang dianut Indonesia secara perlahan tergerus. Pertahanan semesta yang mengandalkan penyatuan sipil dan militer menjadi konsep ideal untuk merebut kemerdekaan dan mempertahankannya (AH Nasution : 2013). Sikap cinta tanah air dan menyatu untuk kepentingan negara itu lahir dari kebudayaan tradisional yang telah ada berpuluh tahun lampau.

Ujaran kebencian, informasi bohong yang kian berjejalan di jagat maya menjadi pemecah persatuan bangsa. Disiintegrasi bangsa kian hari makin menguat ditambah dengan persoalan berbeda dukungan politik. Ini tak salah bila kementerian pertahanan mulai mengampanyekan bela negara.

Sayangnya, program bela negara semata-mata mengambil titik fokus untuk mendidik pelatihan dasar kemiliteran, kewarganegaraan untuk menjadi TNI baik secara sukarela maupun wajib militer. Terakhir pengabdian profesi berkaitan dengan pertahanan negara (UU No 3/202 tentang Bela Negara).

Padukan

Sejatinya, konsep ini bisa dipadupadankan dengan pendekatan kearifan lokal lewat kementerian pendidikan dan kebudayaan. Pendekatan budaya dalam ranah pendidikan formal sejak dini dapat diterapkan sebagai investasi budaya untuk menjaga keutuhan bangsa. Generasi masa depan Indonesia harus diasupi penguatan doktrin budaya untuk menjaga keutuhan negara, pluralisme, dan cinta sesama.

Bangsa ini diikrarkan dari tali temali ribuan suku bangsa yang kemudian terajut dalam semangat keindonesiaan. Konsep doktrin budaya untuk pertahanan negara semakin penting jika merujuk pada UUD 1945, dan UU No 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara karena tidak satu pun menyebut pendekatan budaya dalam penguatan kebangsaan.

Untuk itu, tampaknya kementerian pertahanan, kementerian pendidikan dan kebudayaan, serta kementerian riset, teknologi dan pendidikan tinggi perlu membuat program kebudayaan di semua jenjang pendidikan tentang doktrin kebangsaan. Ini pula yang tampaknya dilupakan dari narasi Nawacita Presiden Joko Widodo. Dalam jangka pendek, boleh saja pemerintah berikhtiar memerangi hoax. Namun dalam jangka panjang, hoax tersebut akan terus diproduksi seiring sikap mental generasi yang abai pada esensi dasar negara. Mereka juga abai akan sejarah.

Pendekatan ajaran budaya untuk pertahanan negara menjadi penting bagi seluruh bangsa di dunia. Negara seperti Jerman dan Amerika menyatakan, kewajiban rakyat membela negara dicantumkan dalam konsitusi. Pendekatan yang dipilih kerap kali memadukan pendekan kearifan lokal, wajib militer, dan perkembangan teknologi informasi. Negara juga mengingatkan rakyat, andai negara dalam keadaan genting, mereka harus siap menyerahkan harta milik untuk menjaga kedaulatan bangsa.

Konsep bela negara perlu dikembangkan pada semua jenjang pendidikan agar generasi muda tak lagi bersikap individualistis, merasa diri paling benar, dan menghujat kelompok lain yang tak sepaham. Indonesia diharapkan menjaga negeri tetap plural. Lewat kebudayaan, keberagamaan terjahit dan terjaga. Bangsa harus menjaga optimisme untuk melanjutkan perjuangan pendiri bangsa mewujudkan rakyat adil, makmur, dan sejahtera.

Penulis Pengajar FISIP Universitas Malikussaleh Aceh

SUMBERMenjaga Pertahanan Semesta

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close