Fokus

Tangis Haru dalam Senandung Zikir

REKTORAT

SEKITAR 1.500 peserta berkumpul di Gedung Olahraga Universitas Malikussaleh (Unimal) di Cunda, Kota Lhokseumawe, Selasa (26/12/2017). Mereka membaca ayat demi ayat Al Quran hingga khatam sebanyak 50 kali. Lantunan ayat suci itu dibalut tangis haru peserta mengenang peristiwa 13 tahun lalu, ketika tsunami dalam bahasa lokal disebut Aloen Buluek, menghantam sebagian besar Provinsi Aceh.

 

Sebagian dari mereka korban tsunami. Kehilangan keluarga, harta dan benda. Setelah mengaji, mereka berzikir bersamaan, dan bershalawat.

 

Bulingan jerning menetes di pipi peserta terdiri dari mahasiswa, staf dan dosen kampus itu. Gedung itu pun tak mampu menampung jumlah mereka, hingga meluas ke halaman parkir.

 

Selain mendoakan arwah korban tsunami, kali ini mereka mendoakan agar Palestina, segera terlepas dari teror Israel, warga Rohingnya terbebas dari intimidasi militer Myanmar.

 

Rektor Universitas Malikussaleh, Prof Apridar menyebutkan kegiatan yang diberinama Unimal mengaji itu serangkaian dengan peringatan 13 tahun tsunami Aceh.

 

“Kita mendoagakan agar mereka yang telah tiada ketika tsunami menghancurkan Aceh, mendapat tempat disurga, diampuni dosanya,” sebut Apridar menahan haru.

 

Gema shalawat membuat bulu kuduk berdiri. Seluruh peserta tak kuasa menahan haru.

 

“Kita juga doakan agar dunia damai, Indonesia damai, Palestina damai, Rohingnya damai. Kita terus mendoakan agar tercipta perdamaian dunia,” terangnya.

 

Meski hari libur, peserta antusias membaca Quran, berzikir, dan berdoa pada sang pencipta. Agar tsunami tak pernah singgah lagi ke bumi Aceh.

 

Perhelatan doa dan zikir juga digelar disejumlah tempat seperti Islamic Center, Lhokseumawe, Masjid Agung Baiturrahim Aceh Utara, dan Kantor PMI Kota Lhokseumawe.

 

Hari ini, nelayan pun stop melaut. Mereka menghentikan aktivitas sehari, guna mendoakan nelayan yang tewas ketika tsunami terjadi di provinsi paling ujung Pulau Sumatera itu.

 

“Semoga kita bisa merenung, memetik hikmah dari peristiwa tsunami, menyatukan tekat untuk membela Palestina dan Rohingnya,” pungkas Apridar. |KOMPAS

 

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close