Kolom

Perguruan Tinggi Radikal

REKTOR

Apridar

Guru Besar dan Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh

 

SETIDAKNYA ada dua hal yang membuat negeri ini gaduh akhir-akhir ini, pertama karena informasi yang sesat dan menyesatkan atau dalam bahasa lain dikenal dengan sebutan hoaxs, kedua karena radikalisme dan intoleransi. Keduanya mengguncang dunia maya dan berimplikasi pada dunia nyata.

 

Hoaxs seringkali memicu ketegangan antar masyarakat, lebih serius lagi antar umat beragama. Melihat literatur sejarah, para pendiri negeri ini bersepakat untuk membawa kemerdekaan ke ranah kebhinekaan. Tuhan menakdirkan negeri ini kumpulan masyarakat dari beragam pulau, budaya, ras dan agama. Untuk itu pula, kebhinekaan menjadi keniscayaan.

 

Lalu, apa yang memicu radikalisme? Seperti disingung pada bagian awal tulisan ini, tampaknya hoaxs menyumbang sikap radikalisme itu. Informasi keliru, disebar lewat jejaring media sosial itu begitu cepat sampai ke tangan pembaca. Sayangnya, meski dunia digital semakin modern, mayoritas pembaca tak begitu bijak menyikapi informasi itu.

 

Begitu menerima informasi, tanpa analisis, berupaya mencari kebenaran, lalu menyebarkan kembali informasi keliru itu pada pengguna akun media sosial lainnya. Dampaknya sungguh luar biasa. Pergesekan sikap, bahkan sampai pertikaian fisik terjadi di masyarakat kita. Hanya karena satu potong informasi yang jelas-jelas keliru.

 

Lalu bagaimana di perguruan tinggi? Tempat kaum terdidik berhimpun, gerbang terdepan penjaga peradaban di tanah air itu?

 

Survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tahun lalu, menyebutkan 39 persen mahasiswa terpapar paham radikal. Survei yang dilakukan pada 15 provinsi yaitu Lampung, Maluku, Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Riau, Jawa Barat, dan Kalimantan Utara. Kemudian, Sulawesi Tengah, Bangka Belitung, Sulawesi Tenggara, Banten, Bali, Kepulauan Riau, dan Bengkulu (MetroTV, 26 Juli 2017).

 

Belakangan, tahun ini, Aceh dalam survei terakhir telah masuk menjadi salah satu provinsi terpapar paham radikalisme. Data dilansir oleh Polda Aceh, setidaknya ada tiga peguruan tinggi yang terindikasi menyebar paham radikal dan kini dideteksi, ditangani oleh tim Polda Aceh (Polda Aceh, 2017).

 

BNPT dan Polri telah menyerahkan data perguruan tinggi yang diduga terpapar paham radikal tersebut ke Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti). Sehingga, Menteristek Dikti, Prof Mohd Nasier, mengumpulkan seluruh rektor PTN/PTS untuk bersama-sama menyatukan sudut pandang mencegah penyebaran paham tersebut.

 

Polri setidaknya mendeteksi dua paham radikal yang paling berkembang dewasa ini yaitu ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) dan Al qaeda. Kedua organisasi itu terdeteksi pernah beraksi di nusantara (Prof Jenderal Muhammad Tito Karnavian, 2017).

 

Mencurigai Anak Sendiri?

Berbicara pencegahan paham radikalisme di perguruan tinggi, tentu memunculkan anggapan bahwa para orang tua (dosen/manajemen perguruan tinggi) sedang mencurigai anaknya sendiri (mahasiswa). Apakah sikap ini dibenarkan? Tentu.

 

Dalam literatur mana pun, tak ada orang tua yang ingin anaknya menerima paham keliru, ilmu yang sesat dan keburukan lainnya. Orang tua tentu, ingin anaknya memiliki pemahaman yang sedapat mungkin bisa bermanfaat bagi sesama. Dalam bahasa lain ini disebut toleransi.

 

Karena itu pula, perlu dibentuk standar operasi prosedur (SOP) sistem pengawasan mahasiswa. Tentu bukan sekadar mengawasi fisik dan aktivitasnya. Namun jauh lebih dalam, yaitu mengawasi sikap, kepribadian dan perbuatannya. Untuk itu, efektivitas dosen wali, manajemen di level jurusan harus dibenahi. Mereka yang dipilih menjadi dosen wali atau pengelola jurusan (ketua, sekretaris, ketua laboratorium) harus memahami esensi mendidik dan mengajar. Dosen dan guru sesungguhnya bukan sebatas mengajar yang mentransfer pengetahuan pada mahasiswa. Peran dosen dan guru jauh lebih dalam, yaitu mendidik, maknanya bertanggungjawab akan pembentukan karakter mahasiswa tersebut. Bukan sebatas menghabiskan jam kuliah yang tercantum dalam Sistem Kredit Semester (SKS).

 

Apakah semua dosen memiliki kompetensi sebagai pendidik? Tampaknya belum semua sampai ke taraf itu. Namun, jika seluruh dosen merenung akan iktikadnya menasbihkan hidup menjadi pendidik, maka esensi mendidik tersebut sama halnya merawat anak sendiri. Itulah yang patut dicamkan semua dosen di PTN/PTS kita.

 

Sehingga, begitu terjadi perubahan sikap, perilaku dan tindakan dari mahasiswa yang diduga bersumber dari paham radikal, secepat mungkin dapat dideteksi dan diberi obat mujarab penyembuhannya.

 

Doktrin Versus Doktrin

Solusi lainnya yaitu kontra idiologi. Radikalisme dalam kajian seluruh pemikir dalam dan luar negeri berkembang lewat indoktrinisasi paham tertentu. Umumnya menyitir sepenggal hadis dan ayat yang tidak dibarengi dengan asbabun nuzul-nya. Sehingga, si penerima pesan ini langsung mengaminkan paham tersebut. Padahal, seringkali paham itu salah dan bertentangan dengan agama mana pun di dunia ini, apalagi agama Islam.

 

Sebagai idiologi, tentu harus dilakukan konsep dan aplikasi penerapan idilogi pula. Khusus untuk Universitas Malikussaleh (Unimal) konsep ini diformulasikan dalam lembaga yang disebut Rumah Quran. Lembaga ini yang mengajarkan islam moderat layaknya diterapkan oleh organisasi umat Islam terbesar di tanah air yaitu Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah.

 

Kajian Islam dengan menghadirkan sejumlah ulama, disampaikan mengikuti gaya kekinian remaja, serta mudah dipahami digelar dua kali dalam sepekan. Kajian ini diikuti oleh lintas jurusan dan fakultas. Selain itu, lembaga itu berfungsi untuk menyiapkan kader-kader dari mahasiswa sebagai juru dakwah penyampai pesan damai dari ajaran Islam.

 

Konsep ini diharapkan mampu membendung paham lainnya, apalagi paham radikal di dalam kampus. Program rutin ini dilakukan bukan hanya untuk mahasiwa baru, namun juga mahasiswa semester lawas dalam kampus.

 

Kolaborasi Orang tua

Langkah lainnya yang ditempuh yaitu kolaborasi antara organisasi mahasiswa, mahasiswa dan manajemen perguruan tinggi untuk menangkal radikalisme ini. Sebaik apa pun lembaga pendidikan mengajarkan sikap demokratis, welas asih, toleransi dan lain sebagainya, namun jika tidak didukung oleh orang tua tentu akan terkikis pergaulan luar kampus.

 

Untuk itu, orang tua berperan penting sebagai palang pintu utama menjaga pergaulan anaknya. Sehingga, kampus dan orang tua berkolaborasi untuk menciptakan generasi unggul, garda penjaga peradaban dan kebanggaan bangsa itu.

 

Selain itu, organisasi mahasiswa harus pro aktif melihat perubahan sikap mahasiswa dilingkungannya. Jika ditemukan, tentu saluran yang telah disiapkan kampus menjadi tempat aduan. Saluran ini kemudian menangani, dan mencari solusi. Jangan pula diberikan kewenangan organisasi mahasiswa untuk mengambil sikap mengatasi orang yang dianggap sudah radikal itu. Dikhawatirkan akan muncul masalah baru dan kontra produktif dari tujuan utama mencegah paham radikal.

 

Kini, saatnya mengembalikan kampus sebagai tempat mendidik generasi emas Indonesia. Menyebarkan paham welas asih dan saling menghormati, menghargai perbedaan dan pendapat. Dan, terpenting membudayakan literasi dan terus melakukan diskusi terbuka sebagai wujud pengembangan akademik dari waktu ke waktu. Kampus, menjadi garda utama penjaga kewarasan bangsa. Jangan sampai terbalik, kampus menjadi salah satu penyumbang masalah bangsa.

|KOMPAS

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close