InfoNews

Sambutan Rektor dalam Wisuda XVIII 2016

SAMBUTAN REKTOR

UNIVERSITAS MALIKUSSALEH [UNIMAL] ACEH

DALAM RANGKA WISUDA ANGKATAN XVIII TAHUN 2016

DI AULA SULTAN MALIKUSSALEH

SESI II—- MINGGU 13/11/2016

 

“PROFESIONALISME UNTUK PERADABAN INDONESIA “

 

Assalamualaikum Wr Wb

 

Yth terhormat,

  • Pimpinan dan Anggota Dewan Pertimbangan
  • Sekretaris dan Anggota Senat Unimal
  • Para sesepuh dan tamu kehormatan Unimal
  • Danrem 011 Lilawangsa
  • Danlanal Lhokseumawe

 

  • Anggota Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda)
  • Bupati Aceh Utara
  • Wali Kota Lhokseumawe
  • Kapolres Aceh Utara
  • Kapolres Lhokseumawe
  • Dan Denrudal 001 Pulau Rungkom
  • Ketua DPRK Aceh Utara
  • Ketua DPRK Lhokseumawe
  • Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Utara
  • Kepala Kejaksaan Negeri Lhokseumawe
  • Ketua Pengadilan Negeri Lhokseumawe
  • Ketua Pengadilan Negeri Aceh Utara

 

  • Pimpinan Perguruan Tinggi :
  • Rektor Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh
  • Rektor Universitas Samudera Langsa
  • Rektor IAIN Cot Kala Langsa
  • Rektor IAIN Malikussaleh Lhokseumawe
  • Rektor IAI Al Aziziyah Samalanga
  • Direktur Politeknik Negeri Lhokseumawe
  • Ketua STIKES Muhammadiyah Lhokseumawe

 

  • Seluruh sivitas akademika Unimal
  • Para orang tua, dan orang tua asuh serta donatur dan pemberi Beasiswa serta lembaga mitra Unimal yang saya banggakan
  • Para Wisudawan / Wisudawati yang berbahagia
  • Rekan-rekan insan pers yang saya hormati
  • Para mahasiswa yang saya cintai serta hadirin sekalian yang saya muliakan

 

img-20161113-wa0023

 

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT bahwa pada pagi ini kita diberi karunia kesehatan sehingga dapat berkumpul di Aula Sultan Malikussaleh, Universitas Malikussaleh Aceh, untuk melaksanakan salah satu kegiatan universitas yang sangat penting bagi kita keluarga besar Unimal dan bangsa Indonesia, yaitu Wisuda Lulusan Unimal Angkatan XVIII Tahun 2016.

 

Salawat dan salam, tak henti-hentinya kita sanjungkan ke pahlawan revolusi dunia, Baginda Nabi Muhammad SAW serta al dan sahabat beliau sekalian.

 

Karena perjuangan sang revolusioner itulah, kita hari ini bisa menikmati peradaban yang lebih baik, peradaban yang mulia, dan terus membenahi tata moral dan cara berpikir untuk kemajuan anak bangsa.

 

Bapak/Ibu dan Hadirin Sekalian …

Izinkan saya menyampaikan beberapa perkembangan kampus dalam sidang terbuka yang menjadi pertanggungjawaban kami pada publik Aceh dan Indonesia.

 

Sesungguhnya, wisuda adalah sidang terbuka sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik dan pertanggungjawaban kami selaku pengelola kampus ini pada saudara/saudari sekalian.

 

Saya sampaikan, kampus dimana hari ini Anda berada sudah setara dengan Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Negeri Lampung, Universitas Lambung Mangkurat Kalimantan dan sejumlah kampus ternama lainnya di tanah air. Mereka berusia 55 tahun menjadi universitas negeri.

 

Sedangkan Universitas Malikussaleh baru 15 tahun menjadi perguruan tinggi negeri. Hasilnya, Unimal dan deretan kampus yang saya sebutkan tadi sama-sama terakreditasi dengan peringkat (B).

 

Ini sebagai bentuk kerja keras kami, kerja keras saya dan tim, serta dukungan bapak/ibu sekalian.

 

Anda bayangkan, mereka butuh waktu puluhan tahun mencapai nilai B. Kita butuh waktu belasan tahun mendapatkan nilai yang sama. Inilah yang saya sebut, kerja cerdas, kerja ikhlas, dan penuh strategi.

 

Di awal tahun, kami disoroti, dikritik, bahwa kami yang memegang amanah mengelola kampus ini tidak bekerja, lamban menyiapkan akreditasi dan seterusnya-seterusnya. Kami dituding berbagai macam atas nama akreditasi itu.

 

Saat itu, saya jelaskan, dengan rinci, apa dan bagaimana proses akreditasi institusi kampus. Namun, ada juga pesimisme yang ditampakan pada masyarakat luas, seakan-akan kampus ini tidak sah dan ilegal. Sungguh itu sangat mengharukan.

 

Pesimisme itu kami jawab dengan optimisme. Dan, hasilnya anak-anakku sekalian, kalian sekarang sejajar dengan kampus ternama. Jangan takut bersaing dengan lulusan kampus lainnya, karena nilai akreditasi kita juga sama dengan nilai akreditasi mereka.

 

Anak-anakku yang berbahagia

 

Saya dan tim Universitas Malikussaleh, mendeklarasikan tagline, di Unimal, kami tak hanya memberikan ijazah, namun menyiapkan masa depan Anda.

 

Tagline itu, saya dan tim merumuskan tagline itu dengan perenungan mendalam. Terkesan memang muluk-muluk, namun di era globalisasi dewasa ini, perkembangan teknologi yang begitu pesat, mewujudkan tagline itu adalah keniscayaan sejarah.

 

Pada forum ini juga saya sampaikan bahwa tahun ini, Unimal dipercaya sebagai lembaga yang melakukan tes kelayakan dan kepatutan untuk karyawan PT Pupuk Iskandar Muda (PT PIM). Ini sebagai wujud bahwa Unimal bukan hanya memberikan ijazah, namun menyiapkan masa depan.

 

Program kerjasama dengan lembaga negara, badan usaha milik negara, dan badan usaha swasta terus kita galakan. Sehingga, ke depan, alumnus Unimal, dengan catatan, sekali lagi saya garis bawahi, yang cerdas dan memiliki komptensi mumpuni, bisa langsung diterima di pasar kerja. Unimal telah merintis kerjasama itu.

 

Ke depan, saya terus melobi agar rekrutmen karyawan lembaga negara, badan usaha negara dan swasta bisa dilakukan di kampus tercinta ini. Inilah yang saya maksud tak sekadar menyiapkan ijazah, namun masa depan. Tentu, harus melewati persaingan yang ketat dengan lulusan lainnya. Dan, saya tegaskan, lulusan Unimal tak gentar bersaing. Kita harus siap menghadapi percaturan global dan internasional dewasa ini. Alumni Unimal tidak akan menjadi penonton dalam percaturan global ini. Namun, alumni Unimal, saya harapkan menjadi pemain dalam konstalasi dunia ini.

 

Untuk itu, diperlukan kerjasama tim yang solid dan handal. Sesama alumni harus mengajak alumni lainnya untuk berkonsentrasi mengembangkan bisnis, keahliannya, dan segala macam lainnya. Pada akhirnya akan bermuara pada peningkatan tarap hidup alumni, dan kontribusi untuk membangun perdaban Indonesia lebih baik.

 

Bapak/Ibu yang saya muliakan

Hari ini, dengan bangga, saya lepaskan generasi pemimpin bangsa ini kembali pada bapak/ibu dan masyarakat. Di sana, ladang amal dan ladang perjuangan telah menunggu. Di sanalah pengabdian sesungguhnya.

 

Bagaimana, kehadiran anak-anakku ini, bisa bermanfaat untuk kebajikan dan kebaikan umat manusia. Secara perlahan terus mendorong virus positif untuk kemajuan agama, bangsa dan negara. Kontribusi kita ditunggu rakyat.

 

Sekecil apa pun kontribusi itu untuk kebajikan haruslah terus dilakukan. Pepatah bijak mengatakan, kontribusi nyata lebih berharga dari pada perdebatan wacana.

 

Di situlah, posisi anak-anakku sekalian. Negeri ini, provinsi ini, kabupaten ini menunggu sentuhan tangan kalian. Rakyatmu memanggilmu untuk berbuat yang terbaik sesuai kemampuanmu.

 

Saudara/Saudari yang berbahagia

 

Sesungguhnya, bangsa ini berada pada posisi krodit. Kompleksitas masalah terus terjadi. Intoleransi, degradasi moral, sikap iri dalam bahasa Aceh saya menafsirnya sebagai sikap ku’eh terus berkembang di kalangan masyarakat nusantara.

 

Sesungguhnya itu bukanlah peradaban kita. Bangsa ini lahir sebagai bangsa yang santun, saling meyayangi dan menghargai perbedaan satu sama lain.

 

Saya ingat betul, ketika saya kecil, saat mendayung sepeda lalu ada orang tua yang sedang berjalan kaki, maka saya akan turun dan menuntun sepeda itu, setelah agak jauh melewati orang tua tersebut, baru sepeda saya dayung kembali.

 

Perlakuan yang sama jika saya melintas rumah guru ngaji saya, ketika beliau sedang duduk santai di depan rumah, maka saya akan turun dari sepeda, mengucapkan salam, setelah lewat rumah itu baru sepeda saya dayung kembali.

 

Budaya itu turun temurun kita lakukan di Aceh. Budaya itu pula menjadi salah satu kekhasan provinsi ini. Bahwa Aceh adalah Istimewa dibidang agama, pendidikan dan budaya.

 

Pertanyaannya sekarang, masih adakah budaya itu di tengah masyarakat kita?  Tak bisa dipungkiri, perkembangan teknologi informasi yang kian pesat nyaris tanpa sekat dan waktu, berdampak pada perubahan budaya. Sejatinya, teknologi dimaknai untuk mempermudah birokrasi, bukan menghilangkan budaya arif dan santun yang telah mengakar di masyarakat kita.

 

Nah, lulusan Unimal saya imbau untuk mempertahankan ke-Aceh-an kita secara benar. Bahwa kita boleh modern, boleh ilmiah, boleh hai-tek, namun kita tetap sebagai generasi Aceh yang Islami dan menjunjung tinggi kebudayaan kita.

 

Bapak / Ibu yang saya hormati

 

Di sisi lain, bangsa ini juga mengalami krodit soal gaya kepemimpinan. Sebagai orang timur, sejatinya, kita memiliki pemimpin yang santun, dan berpihak pada pengembangan sektor pendidikan, keagamaan dan pengembangan ekonomi masyarakat miskin.

 

Dewasa ini, seakan menjadi tren, bahwa tegas diidentikkan dengan tidak santun. Bagi saya, itu sungguh persoalan serius. Tegas bukan berarti tidak santun. Tegas dengan kesantunan adalah paket komplit pemimpin ideal.

 

Saya apresiasi seluruh pejabat negara yang bersikap tegas dan santun di republik ini. Dan, anak-anakku bahwa kesantunan dan ketegasan adalah sikap dasar yang harus dimiliki seorang pemimpin. Satu hal lagi, integritas yang patut dipertahankan.

 

Hadirin yang saya hormati

Saya ingin berbagi kebahagian untuk kita semua. Dua hari lagi, tepatnya 15 November 2016, saya diundang menerima penghargaan The International Council for Small Business (ICSB) Indonesia, untuk menerima penghargaan ICSB Indonesia President Award 2016. Lembaga internasional itu memberikan penghargaan untuk kategori akademik, pada Universitas Malikussaleh (Unimal) tahun ini. Kita dianggap dan dinilai berdedikasi dan konsisten mengembangkan Usaha Kecil Mikro Menengah (UMKM) di Aceh.

 

Untuk tahun ini, ICSB Indonesia President Award diberikan kepada Universitas Malikussaleh, Institute Pertanian Bogor (ITB), Universitas Medan Area (Unimed), Universitas Parahyangan Bandung, PT Kereta Api Indonesia, PT Pertamina, PT Pelindo II Sumatera Utara.

 

 

Sejujurnya, saya tidak pernah berpikir apa yang kita kerjakan di kampus yang berada di atas bukit ini akan mendapat penghargaan dari lembaga kredibel internasional itu. Saya hanya berpikir bagaimana kampus ini mendorong mahasiswa untuk berwirausaha.

 

Kita tahu, ketika krisis moneter melanda Indonesia tahun 1998, hanya sektor UMKM yang tidak tumbang dan bangkrut. Sektor makro, industri raksasa semuanya gulung tikar, dan berdampak pada pemecatan tenaga kerja. Atas pengalaman itu, saya mendorong agar setiap tahun, lewat program kewirausahaan mahasiswa kita membantu pengembangan usaha kecil.

 

Dengan dana terbatas, jumlahnya memang kecil saban tahun. Hanya sekitar 60 kelompok. Namun, konsisten melakukannya adalah keharusan. Dari jumlah itu akan merekrut tenaga kerja puluhan hingga ratusan orang. Beberapa diantaranya sudah berkembang menjadi cafe dan restoran ternama seperti Mansur Pato di Lhokseumawe.

 

Selain itu, kami terus mendorong agar pemerintah kabupaten/kota di Aceh, mendukung pemberdayaan UMKM, sebagai pusat kekuatan ekonomi Indonesia. Jika ini dilakukan, maka anak-anakku, kita tak perlu lagi berpikir bagaimana menjadi pegawai negeri, namun akan lebih indah merintis bisnis dan mengelolanya dengan baik. Lalu merekrut tenaga kerja dan mengentaskan pengangguran yang jumlahnya 40 persen dari 4,7 juta penduduk Aceh saat ini.

 

Saya menganggap penghargaan yang diberikan ICSB Indonesia itu sebagai motivasi kita bersama, untuk bekerja lebih keras, bekerja lebih cerdas dan strategis untuk mencapai kegemilangan alumni universitas yang kita cintai ini.

 

Sehari-hari saya tidak pernah berpikir akan mendapatkan apresiasi dari lembaga ini dan itu. Saya hanya bekerja semampu saya, sekuat tenaga yang saya bisa,dan sedapat mungkin mengajak semua pihak untuk bekerja bersama saya. Pada akhirnya, semua tujuan itu adalah untuk kebajikan Unimal.

 

Tak henti-hentinya saya ingatkan pada seluruh karyawan, dan dosen untuk terus bekerja keras meningkatkan pelayanan dari waktu ke waktu. Dalam waktu dekat, saya akan membentuk Tim Reformasi Birokrasi (RBI) di Unimal. Niat membentuk tim ini adalah untuk mempercepat pelayanan pada mahasiswa dan masyarakat yang berhubungan dengan lembaga ini. Harap, semua unit kerja meningkatkan pelayanan dengan cepat, tepat dan terukur dengan hari kerja. Misalnya, untuk membuat surat izin penelitian dibutuhkan waktu maksimal dua hari. Jangan pernah berpikir dibenak kita, bahwa surat selembar itu bisa selesai dalam waktu sebulan. Saya tidak ingin itu terjadi.

 

Saya, dan semua staf termasuk dosen di kampus ini adalah pelayan publik. Publik kita adalah mahasiswa, orang tua wali dan masyarakat di Aceh dan Indonesia.

 

Saudara/Saudari yang mulia

Kepada para orang tua dan wali mahasiswa, kami mohon maaf atas segala kesalahan dalam proses belajar mengajar di kampus ini. Sesungguhnya, sebagai manusia biasa, tidak ada yang sempurna dalam pelaksanaan pendidikan. Kami menyadari pasti ada kekurangan di sana-sini. Namun, kami terus berupaya menambal kekurangan itu dari waktu ke waktu. Sehingga perbaikan terus dilakukan di kampus ini.

 

Hari ini, saya kembalikan putra dan putri bapak/ibu sekalian. Doa saya, bahwa mereka akan menjadi pemimpin yang handal, profesional dan berintegritas.

 

Kepada para alumni, saya minta untuk mengingat pesan terakhir ini. Bahwa Unimal adalah rumah kita. Sebagai rumah kita bersama, tentu kita harus menjaganya bersama pula. Jaga nama baik almamater. Dan, satu hari kelak, kami merindukan kehadiran kalian untuk membawa sesuatu kebajikan dan kebaikan untuk kampus ini.

 

Selamat jalan, dan kokohkan pemikiran dan persatuan kalian sebagai alumni. Bahwa kita terus bersama, bahwa kita terus bekerja, dan bahwa saya dan Anda akan dicatat sejarah, bersama mengembangkan pendidikan tinggi di negeri ini.

 

Billahitaufiq Wal Hidayah

Wassalamualaikum Wr Wb

 

Rektor,

 

 

Prof Dr H Apridar SE, MSi

 

 

 

 

 

 

 

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close