KolomNews

SDM Tangguh

Prof Apridar - Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara
Prof Apridar Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara

BANGSA ini menyadari benar bahwa peningkatan komptensi sumber daya manusia (SDM) harus dilakukan dari waktu ke waktu. Bahkan, di awal kemerdekaan, presiden kala itu-Sukarno- mengirimkan sejumlah pelajar ke Eropa dan sejumlah negara lain. Pendiri bangsa sadar, bahwa sangat sedikit kaum terpelajar untuk mengatur, memimpin dan menggerakan seluruh sektor. Semua itu bermuara untuk mengentaskan kemiskinan, dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat di tanah air.

 

Di era modern dewasa ini, upaya menyiapkan SDM profesional harus terus bergerak- alih-alih untuk mengabaikannya sama sekali. Aceh juga menyadari kondisi itu. Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia (LPSDM) diamanahkan sebagai salah satu lembaga yang mengirimkan pelajar Aceh untuk belajar ke luar negeri.

 

Selain itu, sejumlah kampus di Aceh juga berkewajiban menyiapkan SDM handal, profesional dan tangguh. Saya menyebutnya SDM tangguh. Mengapa?

 

Mau tidak mau, suka tidak suka, perkembangan teknologi dan informasi digital berdampak pada perubahan perilaku, dialektika, dan pola hubungan sosial generasi kita. Teknologi itu sejatinya dimaknai untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, membuat transaksi keuangan dan agenda bisnis semakin mudah. Bukan sebaliknya, merubah tata nilai dan perilaku generasi muda. Dampak positif-negatif dari teknologi adalah keniscayaan.

 

Untuk itu, diperlukan penguatan tata nilai, etika dan moral bagi seluruh anak bangsa. Ilmu tanpa dibarengi pengetahuan agama, maka akan menjadi tamsil lilin, goyang diterpa angin, alih-alih padam, dan jauh dari harapan sebagai fungsi menerangi kegelapan.

 

Pengetahuan agama, tata moral, etika ini kemudian akan menjadikan generasi kita menjadi SDM tangguh dan berintegritas. Tidak mudah menghadapi goyang dan menghadapi cobaan dalam menjalani hidup. Bersikap optimis menuju masa depan. Dan memiliki spirit untuk berbuat baik, membantu sesama dan welas asih. Disitulah poin kunci sumber daya manusia yang diharapkan.

 

Nah, untuk ini, tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada lembaga pendidikan formal dan non formal. Peran serta masyarakat tentu sangat berpengaruh untuk mewujudkan SDM tangguh itu.  Kontrol sosial terhadap penyimpangan norma, tata nilai dan perilaku sejatinya bisa dideteksi jika masyarakat peduli terhadap itu. Sehingga, bisa segera dicari terapis penyembuh penyimpangan tersebut.

 

Jika memiliki poin itu, tinggal melengkapi kemampuan intelektual dan teknikal. Sehingga siap bersaing di bursa kerja internasional yang serba terbuka dewasa ini. 

 

***

Aceh sebagai salah satu pintu masuk perdagangan regional yang tergabung dalam kawasan Ekonomi Asean sepatutnya menyiapkan sumber daya manusia yang berdaya saing. Salah satunya, memperbanyak tenaga kerja produktif di sektor wirausaha.

 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh menunjukan penduduk berusia 15 tahun ke atas, sekitar 3,4 juta jiwa dari 4,7 juta jiwa penduduk Aceh. Jumlah itu merupakan bom waktu jika tidak menyiapkan SDM dan sektor kewirausahaan secara serius sejak dini.

 

Pada kadar tertentu, kampus telah mengembangkan kewirausahaan. Menyiapkan calon pebisnis handal, membimbing dan mengajarkan cara mempromosi dan memasarkan produk. Namun, sumber dana kampus sangat terbatas untuk itu.

 

Program ini bertujuan agar lulusan perguruan tinggi ke depan tidak semata-mata berpikir menjadi pegawai negeri sipil (PNS) yang jumlahya dibatasi oleh pemerintah.

 

Namun mereka bisa menjadi pengusaha produk tertentu, menciptakan lapangan kerja untuk ukuran tertentu dan pada akhirnya bisa mengurai angka pengangguran Aceh.

 

Di sinilah, pemerintah perlu turun tangan. Sehingga, gesah gerakan kewirausahaan Aceh bisa menyeluruh ke seluruh kabupaten/kota. Pemerintah harus sadar benar, bahwa salah satu solusi mengentaskan kemiskinan adalah jalur kewirausahaan.  Salah satu contoh saja, mahasiswa yang memilih produk rapa’i untuk dikemas secara apik, dipromosi melalui jaringan digital, dan akhirnya bisa memasarkan rapa’i ke seantero nusantara. Industri kreatif di tangan-tangan muda ini perlu dibantu promosi dan pasarnya.

 

Agar lebih mudah mengembangkan sektor wirausaha muda ini, maka buatlah program intensif pengembangan kewirausahaan di perguruan tinggi negeri dan swasta di Aceh. Provinsi ini memiliki perguruan tinggi di seluruh kabupaten/kota. Sehingga, lulusan kita bukan lagi berorintasi sebagai pekerja. Namun, sebagai pengusaha kecil dan menengah dan merekrut tenaga kerja.

 

Produk itu kemudian bersaing dengan pasar global. Sehingga, Aceh bukan menjadi sentral penjualan di tingkat regional. Namun, Aceh sebagai salah satu produsen produk untuk pasar Asean.

 

Generasi muda kita akan lulus sebagai pengusaha. Pengetahuan, pelatihan, contoh nyata mengembangkan bisnis telah diterima dan dipraktikan sejak mahasiswa. Dari sini, bisa mencapai kata-kesejahteraan-sesungguhnya.

 

Di bulan Ramadhan ini, mari memikirkan hal positif untuk kemajuan Aceh. Mengabaikan pikiran negatif dan mari berbuat baik, minimal untuk diri sendiri, keluarga, lingkungan dan masyarakat kita. SDM tangguh bukan semata tanggungjawab pemerintah. SDM tangguh lahir dari masyarakat yang tangguh. Dan itu semua berasal dari kita, bukan dari kaum atau bangsa lain.

 

Apridar

Guru Besar dan Rektor Universitas Malikussaleh, Aceh

 

 

 

 

Tags
Show More

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close